Hartaku Hartaku

Inilah Harta Kita

Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallama beliau bersabda,

“Seorang hamba berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Sesungguhnya harta ia miliki ada tiga: Apa yang ia makan sehinggalah habis, apa yang ia pakaikan sehingga usang, atau apa yang ia sedekahkan hingga ia kumpulkan (untuk akhiratnya). Adapun sealin itu, akan pergi dan ia tinggalkan untuk manusia.” (HR Muslim no.2959)

Faedah dikirim oleh Abu Bakar al Jumban’i
Whatsapp Thulab Fiyus

Bagaimana Memperbaiki Hati

Bagaimana Memperbaiki Hati?

Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali

Pertanyaan :

Bagaimana aku memperbaiki hatiku?

Jawapan :

Engkau telah bertanya tentang perkara besar, yang merupakan kunci segala urusan dan kebaikan. Sesungguhnya Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits terkenal yang kalian sudah mengetahuinya, beliau bersabda di akhir hadits,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketauhilah, sesungguhnya dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka akan baik pulalah seluruh jasad, apabila rosak maka akan rosak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.

Hati adalah raja bagi seluruh anggota badan.

Hati boleh menjadi baik, dilakukan dengan cara :

Pertama, muraqabah (senantiasa merasa diawasi) oleh Allah – Jalla wa ‘Ala – baik dalam kondisi tersembunyi (sendiri/tidak diketahui orang/dalam hati) mahupun dalam kondisi tampak (di hadapan orang lain).

Kedua, membaca al-Qur`an. Sehingga dia melewati ayat-ayat yang berisi ancaman dan janji. Janji Allah untuk hamba-hamba-Nya kaum mukminin, dan ancaman untuk orang-orang yang menentang. Serta apa yang Allah siapkan untuk mukminin dan untuk orang-orang yang menentang. Sesungguhnya membaca Al-Qur’an akan melembutkan hati, membuatnya takut, dan meluruskannya.

Ketiga, membaca sirah (sejarah perjalanan hidup) Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam,

Keempat, kemudian membaca sirah (sejarah perjalanan hidup) orang-orang soleh, kemudian membaca kitab-kitab yang berisi nasihat.

Kelima, berteman dengan orang-orang yang baik dan soleh.

Keenam, menjauhi sebab-sebab kejelekan, kerosakan, dan fitnah-fitnah.

Kemudian di samping enam hal di atas, seseorang hendaknya memperbanyak rajin berdo’a kepada Allah memohon perbaikan hati dan menjadikannya lurus di atas al-Haq dan hidayah, serta senantiasa mengukuhkan hatinya di atas al-Haq tersebut setelah Allah beri hidayah, juga memohon agar tidak terfitnah, dan tidak menghadapkannya kepada fitnah. Sesungguhnya do’a merupakan pintu yang sangat agung, yang banyak dilupakan orang. Hendaknya seseorang berdo’a, khususnya pada sepertiga malam terakhir. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Barangsiapa berdoa kepada-Ku nescaya Ku-penuhi untuknya.”

Hal-hal yang telah kita sebutkan di atas, kita ulangi lagi:

Pertama, Membaca al-Qur`an

Kedua, Membaca sunnah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sirah beliau ‘alahish solatu wa as-Salam

Ketiga, membaca sejarah para shahabat dan sirah orang-orang soleh.

Keempat, Membaca kitab-kitab nasihat. Kitab-kitab nasihat yang mengingatkan manusia, laksana cambuk. Membangunkan manusia, menghunjam di hati, sehingga ia pun tersedar.

Kelima, bergaul dengan orang-orang soleh.

Keenam, menjauh dari berteman dengan orang-orang jelek, pengekor hawa nafsu, pengusung kebid’ahan, orang-orang fasiq, dan orang-orang fajir (pelaku dosa).

Ketujuh, hendaknya dia senantiasa berdo’a.

Dalam pembahagian di atas, kami menjadikan berteman dengan orang-orang soleh dan menjauh dari berteman dengan orang-orang jelek menjadi dua poin terpisah. Sebelumnya kita menyebutkan satu. Jika kalian menjadikan dua poin, maka semuanya ada tujuh poin. Namun jika kalian jadikan satu, maka semuanya ada enam poin saja.

Maka enam hal ini, merupakan sebab-sebab perbaikan hati dengan izin Allah Tabaraka wa Ta’ala

Kami memohon untuk diri kami dan saudara kami serta kaum muslimin kebaikan hati.

Sumber: http://ar.miraath.net/fatwah/7742 dengan sedikit perubahan dari penerjemah

Sumber : http://miratsul-anbiya.net/2014/03/13/2576/

Zuhud dan Warak

AZ-ZUHUD DAN AL-WARA’

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ta’ala:

“Az-Zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya, dan al-wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang dikhawatirkan memberikan mudharat untuk akhiratnya.”

📜 Madarijus Salikin 2/10

📚TIS (Thalab Ilmu Syar’i)

Nasihat Yang Halus

مواعظ ورقائق

قال الفضيل بن عياض:
ﺗﻔﻜﺮﻭﺍ ﻭﺍﻋﻤﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﻨﺪﻣﻮﺍ، ﻭﻻ ﺗﻐﺘﺮﻭﺍ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻓﺈﻥ ﺻﺤﻴﺤﻬﺎ ﻳﺴﻘﻢ، ﻭﺟﺪﻳﺪﻫﺎ ﻳﺒﻠﻰ، ﻭﻧﻌﻴﻤﻬﺎ ﻳﻔﻨﻰ، ﻭﺷﺒﺎﺑﻬﺎ ﻳﻬﺮﻡ.

[ﺍﻟﺰﻫﺪ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻟﻠﺒﻴﻬﻘﻲ 197/1]

Nasihat Yang Halus

Berkata Al Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah:

“Hendaklah kalian memikirkan dan beramal sebelum kalian menyesal, dan agar tidak terpedaya dengan dunia, kerana sesungguhnya sihatnya akan sakit, barunya akan menjadi usang, dan kesenangannya akan musnah serta muda akan menjadi tua.”

Az Zuhd Al Kabiir oleh Al Baihaqiy 1/197

Tiada Yang Sanggup Menyumbat Mulut Bani Adam Kecuali Tanah

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika seorang Bani Adam memiliki emas satu lembah, tentu akan mengharapkan lembah yang kedua. Dan jika memiliki emas sebanyak dua lembah, nescaya akan mengharap lembah yang ketiga. Sungguh tidak ada yang sanggup menyumbat mulut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah akan mengampuni hamba yang mahu bertaubat.”

(Muttafaqun ‘alaihi)

WA SLN

Kebahagiaan Dengan Menyelisihi Hawa Nafsu

KEBAHAGIAAN DENGAN MENYELISIHI HAWA NAFSU

Abdullah Al-Armany -rahimahullah- menceritakan:

“Saya pernah sekali dalam perjalanan melewati seorang rahib di sebuah biara, maka dia berkata kepada saya: “Wahai orang muslim, apakah jalan yang paling dekat menuju Allah Azza wa Jalla menurut kalian?”

Saya jawab: “Menyelisihi hawa nafsu.”

Lalu dia pun kembali masuk ke biaranya. Ketika saya tiba di Mekkah di musim haji, tiba-tiba ada seseorang mengucapkan salam kepada saya di Ka’bah, maka saya pun bertanya: “Siapakah Anda?”

Dia menjawab: “Saya rahib yang pernah bertemu dengan Anda.” Saya pun bertanya: “Dengan sebab apa Anda boleh sampai ke tempat ini?”

Dia menjawab: “Dengan sebab perkataan Anda. Saya menawarkan Islam kepada diri saya, tetapi diri saya menolaknya, maka saya pun mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, sehingga saya pun masuk Islam dan menyelisihi diri saya sendiri, maka saya pun merasa beruntung dan selamat.”

Hayaatus Salaf, hal. 50.

www.forumsalafy.net

Tidak Terasa Manisnya Ibadah Kerana Dosa

Dzun Nuun Al-Mishry -rahimahullah- berkata:

”Rosaknya badan kerana penyakit, sedangkan rosaknya hati kerana dosa. Maka sebagaimana kelazatan makanan tidak terasa ketika seseorang sakit, demikian pula hati tidak akan merasakan manisnya ibadah kerana dosa-dosa.”

(Ad-Dunyaa Zhillun Zaa’il, karya Abdul Malik Al-Qasim, hal. 75)