Kebahagiaan Dengan Menyelisihi Hawa Nafsu

KEBAHAGIAAN DENGAN MENYELISIHI HAWA NAFSU

Abdullah Al-Armany -rahimahullah- menceritakan:

“Saya pernah sekali dalam perjalanan melewati seorang rahib di sebuah biara, maka dia berkata kepada saya: “Wahai orang muslim, apakah jalan yang paling dekat menuju Allah Azza wa Jalla menurut kalian?”

Saya jawab: “Menyelisihi hawa nafsu.”

Lalu dia pun kembali masuk ke biaranya. Ketika saya tiba di Mekkah di musim haji, tiba-tiba ada seseorang mengucapkan salam kepada saya di Ka’bah, maka saya pun bertanya: “Siapakah Anda?”

Dia menjawab: “Saya rahib yang pernah bertemu dengan Anda.” Saya pun bertanya: “Dengan sebab apa Anda boleh sampai ke tempat ini?”

Dia menjawab: “Dengan sebab perkataan Anda. Saya menawarkan Islam kepada diri saya, tetapi diri saya menolaknya, maka saya pun mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, sehingga saya pun masuk Islam dan menyelisihi diri saya sendiri, maka saya pun merasa beruntung dan selamat.”

Hayaatus Salaf, hal. 50.

www.forumsalafy.net

Tidak Terasa Manisnya Ibadah Kerana Dosa

Dzun Nuun Al-Mishry -rahimahullah- berkata:

”Rosaknya badan kerana penyakit, sedangkan rosaknya hati kerana dosa. Maka sebagaimana kelazatan makanan tidak terasa ketika seseorang sakit, demikian pula hati tidak akan merasakan manisnya ibadah kerana dosa-dosa.”

(Ad-Dunyaa Zhillun Zaa’il, karya Abdul Malik Al-Qasim, hal. 75)

Kebersihan Hati

Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya Ad-Daa’ Wad-Dawaa’:

“Kebersihan hati tidak akan sempurna melainkan setelah selamat dari lima perkara:
1. Syirik, yang berlawanan dengan Tauhid.
2. Bid;ah, yang berlawanan dengan Sunnah.
3. Syahwat, yang menyelisihi perintah.
4. Kelalaian, yang berlawanan dengan zikir.
5. Hawa nafsu, yang bertentangan dengan kemurniaan dan keikhlasan.

Oleh kerana itu, merupakan keperluan yang teramat mendesak bagi seorang hamba, bahkan darurat untuk memohon kepada Allah agar menunjukkan baginya jalan yang lurus. Tiada hamba lain yang lebih memerlukan doa tersebut selain dirinya. Tidak ada pula perkara yang lebih bermanfaat daripada hal ini.”

Umur Itu Sangatlah Pendek Masanya

Ummu Abdillah, puteri Shaikh Muqbeel rahimahullah menulis di dalam kitabnya Nasihat Lin-Nisaa:

Sungguh baik orang yang mengatakan:

Umur itu sangatlah pendek masanya
Daripada untuk disia-siakan dalam al-Hisaab (perhitungan)
Maka manfaatkanlah waktu-waktunya
Kerana berjalannya waktu itu bak berjalannya As-Sahab (awan di langit)
Bahkan dunia itu sendiri sangatlah singkat

Kehidupan Dunia

Al-Hasan al-Basri rahimahumallah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Kerana itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).

Apabila melakukan amal soleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)

(http://asysyariah.com/permata-salaf-kehidupan-dunia-menurut-generasi-salaf/)